01 Agustus 2009

Memaafkan adalah Keharusan dan (tidak) Melupakan adalah Pilihan

Saya pernah membuat kesalahan. Ya, tentu saja semua orang pernah berbuat salah. Dua kesalahan—yang secara substantif punya sifat yang sama—pernah saya lakukan pada dua orang yang berbeda. Ini menjadi menarik karena kedua orang tersebut mempunyai reaksi yang berbeda. Sederhana saja, pada suatu pertemuan, saya datang tidak tepat waktu seperti yang telah kami rencanakan. Pertemuan yang pertama adalah dengan seorang teman laki-laki bernama Maruto (sebut saja demikian) dan yang ke dua adalah dengan seorang teman perempuan bernama Riana (sebut saja demikian juga). Pada dua pertemuan itu saya datang terlambat.



Menanggapi keterlambatan saya, Maruto tampak sebal. Namun setelah saya minta maaf dan menjelaskan keterlambatan saya, Maruto pun memahami dan tampak tidak keberatan sama sekali. “OK, lain kali sebisa mungkin tepat waktu ya!”, katanya tanpa ada nada marah sama sekali. Hari lain, saya terlambat bertemu dengan Riana dalam suatu acara. Reaksi Riana berbeda dengan yang ditampakkan Maruto. Meski saya sudah minta maaf dan menjelaskan alasan keterlambatan saya—yang secara logis seharusnya dimaklumi—Riana tetap tak sudi memperlihatkan wajah manisnya. Ia memang memaafkan keterlambatan saya, namun dia tetap saja memasang wajah sebalnya. “Kamu tu selalu terlambat! Bisa ga sih menghargai janji?”, serunya pada saya. Saya langsung mengakses memori saya. Saya sangat yakin, persentase keterlambatan saya tak mungkin lebih dari 10%, mengapa Riana bilang “selalu”? Tak apalah, saya tak mau menambah keruwetan. Akhirnya rencana semula tetap kami lakukan meski sampai selesai acara, saya tetap disuguhi wajah sebal Riana.



Cerita saya tentang pengalaman saya dengan Maruto dan Riana adalah satu dari sekian banyak pengalaman pribadi yang saya dengan orang-orang di sekitar saya. Dari sekian pengalaman saya dan juga pengalaman teman-teman saya, saya mengamini suatu ungkapan generalistis tentang perempuan. Ungkapan tersebut adalah “forgiven but not forgotten”. Bagi perempuan, kesalahan orang pada mereka itu sebisa mungkin dimaafkan namun tak mungkin (atau jangan sampai) dilupakan. Berbeda dengan kaum adam—yang saya generalisasikan cenderung mudah melupakan kesalahan orang pada mereka—kaum hawa tampak sulit melupakan. Dari generalisasi tersebut, muncul pertanyaan “Mengapa perempuan bersikap demikian sedangkan laki-laki tidak?”. Saya yakin bahwa laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang sangat berbeda karakteristiknya. Jika mau memakai ungkapan, benar bahwa laki-laki adalah makhluk Planet Mars sedangkan perempuan adalah makhluk Planet Venus yang keduanya kemudian bertemu di Planet Bumi. Dalam konteks permasalahan tadi, di mana sih poin-poin perbedaanya? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya akan menghilangkan terlebih dahulu masalah “memaafkan” karena “memaafkan” adalah permasalahan moral dan saya yakin bahwa orang tidak bisa dinilai moralitasnya berdasarkan gender. Jadi saya akan menghilangkan topik ini dan akan fokus pada permasalahan “sulit lupa dan mudah lupa”.



Hal mendasar yang membedakan laki-laki dan perempuan adalah dominasi antara logika (pikiran) dan emosi (perasaan). Laki-laki cenderung didominasi logika sedangkan perempuan cenderung didominasi emosi. Ini merupakan kecenderungan, bukan berarti laki-laki tak punya emosi atau sebaliknya. Dari sini, dapat dipahami bahwa kesalahan yang dilakukan orang lain pada diri kita akan terlebih dahulu difiltrasi melalui kecenderungan tadi. Filter logika menghasilkan konsekuensi: “kesalahan orang akan tertulis dengan pensil berkarbon rendah di atas karton yang tebal”. Sebaliknya, filter emosi menghasilkan konsekuensi: “kesalahan orang akan tertulis dengan pena tajam di atas kertas yang tipis”. Filter logika membentuk sikap diri layaknya berlapis-lapis karton tebal. Sekuat apa pun menekan alat tulisnya, hanya akan menghasilkan bekas layaknya menulis memakai pensil berkarbon rendah. Sebaliknya, filter emosi membentuk sikap diri layaknya selembar kertas tipis. Meski tidak kuat menekan alat tulisnya, bekasnya akan terasa seperti pena tajam yang tetap akan menghasilkan bekas.



Melupakan kesalahan orang pada diri kita sama halnya dengan menghapus tulisan tersebut. Tulisan dengan pensil akan mudah dihapus. Cukup dengan karet penghapus, tulisan tipis di atas kertas yg tebal akan hilang dengan mudah tanpa meninggalkan bekas. Tentu sulit menghapus tulisan dengan pena tajam di atas kertas yang tipis. Memang ada karet penghapus tinta, namun karet tersebut keras dan akan mengakibatkan terkelupasnya permukaan kertas. Kertas yang tipis bisa jadi akan berlubang jika diadu dengan karet penghapus tinta. Jika tidak ingin merusak kertas, tulisan tersebut bisa ditutup dengan tipex. Namun tetap saja tulisan tersebut tidak hilang, hanya ditutupi saja, tidak bisa hilang sama sekali. Inilah sebabnya mengapa perempuan cenderung lebih sulit melupakan kesalahan orang lain dibandingkan laki-laki.



Saya tidak mengatakan bahwa laki-laki lebih baik daripada perempuan. Tidak melupakan kesalahan orang pada kita bukan berarti kita tidak tulus memaafkan. Memaafkan kesalahan orang pada diri kita merupakan keharusan moral. Namun melupakan atau tidak melupakan kesalahan orang pada diri kita merupakan pilihan. Keharusan memaafkan dan pilihan untuk (tidak) melupakan kesalahan orang semestinya dapat dilakukan secara konsekuen. Setidaknya, dengan mengingat kesalahan orang pada kita, kita menjadi lebih mawas diri. Pun saya tidak mengatakan bahwa logika lebih utama atau lebih baik daripada emosi. Logika dan emosi merupakan bagian integral dalam diri manusia yang seyogyanya dapat digunakan secara imbang sehingga manusia dapat benar-benar menggunakan kompetensi dirinya secara optimal. Lalu, mengapa laki-laki cenderung didominasi logika dan perempuan cenderung didominasi emosi? Kita tidak akan pernah menemukan jawabannya. Ini merupakan misteri yang tak akan tergali layaknya samudera yang tak akan pernah kita ketahui secara pasti ada apa saja di dalamnya.

Tidak ada komentar: