Mbah Joyo adalah tetanggaku yang usiannya hampir satu abad. Dia pernah bercerita padaku tentang kautaman urip atau keutamaan hidup. Dia bercerita bagaimana manusia harus bisa bersikap dan berbuat dengan bijaksana selaras dengan alam. Menurutnya, ketika manusia tak lagi bijaksana—hidup hanya berdasar pada ego dan melulu menuruti keinginan badani—keseimbangan alam akan terganggu dan ujungnya bearakibat kerugian bagi manusia sendiri.
Dia bercerita tentang danau kecil di desa kami yang dulu pernah hampir dua dekade tak menghasilkan ikan sama sekali. Padahal, danau tersebut merupakan salah satu sumber utama penghasilan desa kami setelah pertanian. Dulu, pada masa geger Gestapu, banyak orang yang dicap sebagai komunis dibantai di sekitar danau dan mayatnya dibuang ke dalam danau. Danau yang luasnya sekitar 2 km2 itu warna airnya hampir sewarna darah dan baunya menjadi begitu busuk. Ikan-ikan tak lagi muncul setelah itu, bahkan kangkung pun tak mau tumbuh.
Menurut mbah Joyo, semua itu adalah hukuman dari Hyang Murbeng Dumadi terhadap manusia karena hidupnya tak lagi selaras dengan alam, tak lagi menghormati dan menghargai sesama makhluk ciptaan. Aku kemudian bertanya kepada mbah Joyo siapa itu Hyang Murbeng Dumadi. Jawabnya, “Hyang Murbeng Dumadi ki yo Gusti sing makuasa, sing duweni urip” (Hyang Murbeng Dumadi itu ya Tuhan yang Maha Kuasa, yang mempunyai kehidupan). Dia kemudian bercerita tentang nilai-nilai luhur yang menjadi pegangan hidupnya.
Mbah Joyo secara resmi beragama Islam, namun tak pernah kujumpai sekalipun dia pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Jangankan sholat berjamaah, sajadah pun dia tak punya. Dia memang bukan orang Muslim dalam pengertian taat menjalankan ajaran agama Islam, meskipun anak-anak dan cucu-cucunya adalah orang Muslim yang taat. Mbah Joyo bahkan tidak mengenal Nabi Muhammad dengan segala ajarannya. Yang dia kenal adalah Ki Genthong yang menurut pengakuannya adalah guru yang menjadi panutannya dalam menjalani kehidupan. Ki Genthong merupakan tokoh arif yang populer di sekitar desa kami. Mbah Joyo sudah lupa nama asli Ki Genthong. Nama ‘Ki Genthong’ adalah sebutan baginya karena di depan rumahnya selalu tersedia banyak genthong berisi air segar yang disediakan bagi orang-orang kehausan yang sedang lewat di depan rumahnya. Dia hidup sampai sekitar awal tahun 1900-an dan menghabiskan masa tuanya di desa sebelah utara desa kami, sebuah desa yang kini bernama Desa Genthongan. Dia adalah tokoh yang sangat dihormati karena kearifannya dalam hidup dan ajaran-ajarannya yang selalu mengajak manusia untuk menyembah Hyang Murbeng Dumadi dengan cara bersikap dan bertindak bijaksana, selaras dengan alam. Dia pula yang mengajarkan bahwa manusia haruslah mengahargai sesamanya dan sedapat mungkin selalu menciptakan kedamaian dengan selalu bisa memaafkan sesama yang telah berbuat kesalahan.
Ki Genthong juga termasuk orang pinter, paranormal yang hebat dalam olah kanuragan fisik dan batin. Inilah yang pertama kali membuatnya populer. Dia dikenal sebagai tokoh penyembuh mumpuni yang berkelana untuk membantu orang sembuh dari segala penyakitnya tanpa meminta imbalan apapun. Ki Genthong mengajari mbah Pairo bagaimana orang bisa mencapai Hyang Murbeng Dumadi atau kesempurnaan hidup setelah kematian—nirwana bagi orang Budha atau surga bagi orang Islam, Kristen, dan Yahudi—dengan selalu menjalankan laku prihatin atau hidup asketis secara jasmani dan rohani. Misalnya adalah dengan laku tapa (bertapa), berpuasa, dan mutih (makan nasi putih dan minum air putih saja). Lebih jauh lagi, laku prihatin tersebut harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan dengan sesama, harus bermakna sosial. Jika tidak, semua itu adalah kesia-siaan belaka. Kata mbah Joyo, “Ora ana gunane wong melu pengajian yen bengine trus nyolong banyu tanggane dinggo leb” (Tak ada gunanya orang mengikuti pengajian jika kemudian dia mencuri air dari sawah tetangganya untuk mengairi sawahnya sendiri). “Donga ki penting. Sholat, pengajian, utawa sembahyang neng greja yo penting. Nanging kuwi mau dadi ora ana gunane yen manungsa ki gawe pilara marang sesami” (Berdoa itu penting. Sholat, pengajian, atau berdoa di gereja juga penting. Tapi itu semua menjadi tak berguna jika manusia berbuat buruk terhadap sesamanya). Bagi mbah Joyo, manusia haruslah bisa menjadi kawan dan penolong bagi sesamanya, bukan menjadi serigala, seperti pepatah latin homo homini socius non lupus est.
Mbah Joyo tidak memiliki konsep yang baku tentang Hyang Murbeng Dumadi atau Tuhan. Dia tidak memiliki konsep ketuhanan yang baku seperti Keesaan Allah ala orang Islam atau Trinitas ala orang Kristen. Ki Genthong tidak pernah mengajarkan seperti apa Tuhan itu, bagaimana wujud-Nya atau bagaimana perangai-Nya. Dia hanya mengimani bahwa Hyang Murbeng Dumadi adalah sosok transenden yang berkuasa atas kehidupan manusia. Hyang Murbeng Dumadi mungkin bisa dipahami sebagai keseimbangan alam itu sendiri, bisa pula sebagai seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya atau seorang bapak yang sangat tegas menghukum anaknya yang berbuat kesalahan. Hyang Murbeng Dumadi bisa jadi tak hanya berupa sebuah sosok melainkan banyak sosok. Memahami seperti apa sesungguhnya wujud Tuhan adalah suatu kemustahilan seperti memindahkan seluruh air samudra ke dalam sebuah panci yang bocor. Dan memperdebatkan tentang bagaimana sesungguhnya Dia adalah bukti kepicikan dan ketidakdewasaan dalam beriman. Bagaimana cara mengimani-Nya tak lain adalah dengan mengahargai kehidupan yang telah diberikan-Nya.
Theisme mbah Joyo seperti yang diajarkan Ki Genthong padanya, saat ini diistilahkan sebagai local wisdom dan banyak dijumpai di seluruh Indonesia bahkan di dunia. Dia dinilai tidak memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai sebuah agama karena tidak adanya konsep yang baku dan tidak adanya kitab yang menjadi landasan ajaran. Namun, ada yang menolak konsep ini dan lebih memilih istilah ‘agama asli’ untuk menyebut local wisdom yang sudah mencapai level ketuhanan. Misalnya, dalam masyarakat Jawa kuno dikenal istilah Kejawen yang tak lain adalah way of life atau pandangan hidup yang mendasari perilaku kehidupan orang Jawa. Kejawen juga disebut sebagai agama asli orang Jawa karena di sana ada konsep ketuhanan meskipun tidak terkonstruksikan dengan baku.
Apapun istilahnya, baik agama maupun local wisdom selalu diawali oleh suatu pengalaman keimanan akan Tuhan. Hyang Murbeng Dumadi-nya mbah Joyo adalah sebuah peryataan keimanan seperti yang diajarkan Ki Genthong yang sebelumnya tentu telah memperoleh pengalaman iman. Dalam proses hidupnya, aku yakin mbah Joyo juga memperoleh pengalaman iman itu, namun dia menempatkan pengalaman iman itu dalam kerangka ajaran Ki Genthong.
Kaum Muslim mensyukuri nikmat Allah atas rizki yang didapatkan dengan cara bersedekah pada fakir miskin dan anak yatim. Rasa syukur yang dirasakan dan bagaimana cara perwujudnyataannya ini merupakan pengalaman iman akan Allah seperti yang diajarkan Nabi Muhammad. Begitu pula yang terjadi pada orang Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Konghucu, Taois, dan masih banyak yang lain. Semuanya mempunyai pengalaman iman akan Tuhannya dengan caranya masing-masing.
Pengalaman iman bersifat personal dan karena itulah dia unik dan sangat variatif. Maka sangatlah wajar jika konsep tentang ketuhanan itu berbeda antara satu dengan yang lain. Tuhan yang diwahyukan oleh Yesus tentu berbeda dengan Tuhan yang diwahyukan oleh Nabi Muhammad. Tentu saja hal ini wajar karena Yesus dan Nabi Muhammad mempunyai pengalaman iman yang berbeda akan Tuhan. Dengan cara apa orang berdoa dan bagaimana cara mengaplikasikan keimanannya secara sosial tentu juga berbeda karena didasari oleh konsep ketuhanan yang berbeda. Namun semua ajaran agama atau local wisdom selalu mengajarkan kebaikan dan kautaman urip. Semua mengarah pada satu tujuan yaitu kesempurnaan hidup. Seperti sebuah perjalanan, begitu banyak jalan yang bisa ditempuh namun semuanya mengarah pada tujuan yang sama. Orang berhak untuk memilih jalan mana yang ingin di tempuh. Tak ada satupun yang salah dengan jalan-jalan itu karena semua menuju pada kesempurnaan hidup. Jadi, untuk apa manusia saling bertengkar memperdebatkan jalan mana yang paling baik jika semua adalah baik adanya? Seperti kata mbah Joyo, memperdebatkannya adalah bukti kepicikan dan ketidakdewasaan dalam beriman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar