Beberapa hari yang lalu, aku pinjam laptop temenku. Iseng2 aja aku buka koleksi fotonya. Di sana kutemui satu folder yang berisi gambar2 menjijikkan yg didapatkan dari rotten.com. Folder tsb penuh dengan gambar mayat manusia yang mati dengan cara sangat mengenaskan, mulai dari ‘sekedar’ terlindas truk sampai dengan tubuh yg terpotong-potong hasil mutilasi. Aku langsung mual melihat gambar2 itu, dan hampir saja muntah.
Dari berbagai gambar itu, yang membuatku terhenyak adalah foto2 tentang kerusuhan maluku dan poso yang katanya adalah pertikaian antara orang2 kristen dan muslim. Aku melihat orang menyeret mayat manusia dgn sepeda motornya, mengacungkan kepala manusia sambil menggenggam golok dengan tertawa lebar, ataupun tubuh yang tertusuk potongn bambu dr rektum sampai mulut. Anak2 dan orang dewasa, semuanya menjadi mayat yang sangat mengenaskan.
Gambar2 dalam peristiwa itu begitu mngejutkanku karena terjadi degitu dekat di sekitarku, di negara ini. Dan lebih mngejutkan lagi karena pembantaian yang tak beradab itu dilakukan oleh orang2 yang mengaku beragama, bahkan pembantaian tsb dilakukan dengan klaim untuk melindungi agama beserta penganutnya yang dianiaya. Mereka merasa legitimate karena bertindak berdasar agama.
Buatku, agama adalah candu seperti yang dikatakan mbah Karl Max. Dia mampu membuat orang terlena dan mampu memaksa orang untuk melakukan apa saja. Padahal, seperti filosofi bagi bebrapa orang Jawa lama, agama tak ubahnya ageman alias pakaian. Pakaian boleh berbeda, boleh model apa saja, boleh warna apa saja, tapi pikiran dan tindakan pemakainya haruslah bisa mencerminkan perilaku manusia bertuhan. Apa gunanya orang sholat lima waktu jika ia masih membenci saudaranya? Apa gunanya orang berdoa rosario tiap hari jika masih menyimpan rapat dendamnya pada orang lain? Ritual keagamaan itu hanyalah kesia-siaan belaka jika kita tidak mampu berdamai dengan sesama kita.
Mungkin Tuhan menyesal mengapa manusia—ciptaanNya yang menurut pengakuan manusia sendiri adalah makhluk yang paling mulia—dapat berperilaku sprti itu. Mungkin pula Tuhan menyesal telah menciptakan manusia. Bahkan, mungkin Dia akan menertawakan mengapa manusia begitu bodoh telah bertikai untuk suatu ageman yang sama sekali tidak abadi. Manusia kerap kali menomorsatukan aturan2 agama namun mengesampingkan sesuatu yg lebih esensial yaitu keberlangsungan kehidupan. Mengapa pedagang makanan harus memaksakan diri untuk menutup warungnya di bulan puasa jika dia tahu dan sadar bahwa dengan menutup warungnya sehari saja dia akan kehilangan pendapatan yang membuat dia dan keluarganya tidak bisa melangsungkan kehidupan? Mengapa orang tega membiarkan korban tabrak lari terkapar di jalan hanya karena tidak ingin terlambat mengikuti kebaktian di gereja? Aku sangat yakin Tuhan tidak menghendaki ini. Dia tidak peduli dengan puja-puji kita dalam setiap doa kita. Tuhan tidak butuh itu karena Dia transenden dari sononya. Tapi Tuhan peduli dengan keberlangsungan kehidupan. Tuhan menghendaki manusia menghargai kehidupan. Karena kecintaanNya pada kehidupanlah manusia diciptakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar