01 Agustus 2009

Memaafkan adalah Keharusan dan (tidak) Melupakan adalah Pilihan

Saya pernah membuat kesalahan. Ya, tentu saja semua orang pernah berbuat salah. Dua kesalahan—yang secara substantif punya sifat yang sama—pernah saya lakukan pada dua orang yang berbeda. Ini menjadi menarik karena kedua orang tersebut mempunyai reaksi yang berbeda. Sederhana saja, pada suatu pertemuan, saya datang tidak tepat waktu seperti yang telah kami rencanakan. Pertemuan yang pertama adalah dengan seorang teman laki-laki bernama Maruto (sebut saja demikian) dan yang ke dua adalah dengan seorang teman perempuan bernama Riana (sebut saja demikian juga). Pada dua pertemuan itu saya datang terlambat.



Menanggapi keterlambatan saya, Maruto tampak sebal. Namun setelah saya minta maaf dan menjelaskan keterlambatan saya, Maruto pun memahami dan tampak tidak keberatan sama sekali. “OK, lain kali sebisa mungkin tepat waktu ya!”, katanya tanpa ada nada marah sama sekali. Hari lain, saya terlambat bertemu dengan Riana dalam suatu acara. Reaksi Riana berbeda dengan yang ditampakkan Maruto. Meski saya sudah minta maaf dan menjelaskan alasan keterlambatan saya—yang secara logis seharusnya dimaklumi—Riana tetap tak sudi memperlihatkan wajah manisnya. Ia memang memaafkan keterlambatan saya, namun dia tetap saja memasang wajah sebalnya. “Kamu tu selalu terlambat! Bisa ga sih menghargai janji?”, serunya pada saya. Saya langsung mengakses memori saya. Saya sangat yakin, persentase keterlambatan saya tak mungkin lebih dari 10%, mengapa Riana bilang “selalu”? Tak apalah, saya tak mau menambah keruwetan. Akhirnya rencana semula tetap kami lakukan meski sampai selesai acara, saya tetap disuguhi wajah sebal Riana.



Cerita saya tentang pengalaman saya dengan Maruto dan Riana adalah satu dari sekian banyak pengalaman pribadi yang saya dengan orang-orang di sekitar saya. Dari sekian pengalaman saya dan juga pengalaman teman-teman saya, saya mengamini suatu ungkapan generalistis tentang perempuan. Ungkapan tersebut adalah “forgiven but not forgotten”. Bagi perempuan, kesalahan orang pada mereka itu sebisa mungkin dimaafkan namun tak mungkin (atau jangan sampai) dilupakan. Berbeda dengan kaum adam—yang saya generalisasikan cenderung mudah melupakan kesalahan orang pada mereka—kaum hawa tampak sulit melupakan. Dari generalisasi tersebut, muncul pertanyaan “Mengapa perempuan bersikap demikian sedangkan laki-laki tidak?”. Saya yakin bahwa laki-laki dan perempuan adalah dua makhluk yang sangat berbeda karakteristiknya. Jika mau memakai ungkapan, benar bahwa laki-laki adalah makhluk Planet Mars sedangkan perempuan adalah makhluk Planet Venus yang keduanya kemudian bertemu di Planet Bumi. Dalam konteks permasalahan tadi, di mana sih poin-poin perbedaanya? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya akan menghilangkan terlebih dahulu masalah “memaafkan” karena “memaafkan” adalah permasalahan moral dan saya yakin bahwa orang tidak bisa dinilai moralitasnya berdasarkan gender. Jadi saya akan menghilangkan topik ini dan akan fokus pada permasalahan “sulit lupa dan mudah lupa”.



Hal mendasar yang membedakan laki-laki dan perempuan adalah dominasi antara logika (pikiran) dan emosi (perasaan). Laki-laki cenderung didominasi logika sedangkan perempuan cenderung didominasi emosi. Ini merupakan kecenderungan, bukan berarti laki-laki tak punya emosi atau sebaliknya. Dari sini, dapat dipahami bahwa kesalahan yang dilakukan orang lain pada diri kita akan terlebih dahulu difiltrasi melalui kecenderungan tadi. Filter logika menghasilkan konsekuensi: “kesalahan orang akan tertulis dengan pensil berkarbon rendah di atas karton yang tebal”. Sebaliknya, filter emosi menghasilkan konsekuensi: “kesalahan orang akan tertulis dengan pena tajam di atas kertas yang tipis”. Filter logika membentuk sikap diri layaknya berlapis-lapis karton tebal. Sekuat apa pun menekan alat tulisnya, hanya akan menghasilkan bekas layaknya menulis memakai pensil berkarbon rendah. Sebaliknya, filter emosi membentuk sikap diri layaknya selembar kertas tipis. Meski tidak kuat menekan alat tulisnya, bekasnya akan terasa seperti pena tajam yang tetap akan menghasilkan bekas.



Melupakan kesalahan orang pada diri kita sama halnya dengan menghapus tulisan tersebut. Tulisan dengan pensil akan mudah dihapus. Cukup dengan karet penghapus, tulisan tipis di atas kertas yg tebal akan hilang dengan mudah tanpa meninggalkan bekas. Tentu sulit menghapus tulisan dengan pena tajam di atas kertas yang tipis. Memang ada karet penghapus tinta, namun karet tersebut keras dan akan mengakibatkan terkelupasnya permukaan kertas. Kertas yang tipis bisa jadi akan berlubang jika diadu dengan karet penghapus tinta. Jika tidak ingin merusak kertas, tulisan tersebut bisa ditutup dengan tipex. Namun tetap saja tulisan tersebut tidak hilang, hanya ditutupi saja, tidak bisa hilang sama sekali. Inilah sebabnya mengapa perempuan cenderung lebih sulit melupakan kesalahan orang lain dibandingkan laki-laki.



Saya tidak mengatakan bahwa laki-laki lebih baik daripada perempuan. Tidak melupakan kesalahan orang pada kita bukan berarti kita tidak tulus memaafkan. Memaafkan kesalahan orang pada diri kita merupakan keharusan moral. Namun melupakan atau tidak melupakan kesalahan orang pada diri kita merupakan pilihan. Keharusan memaafkan dan pilihan untuk (tidak) melupakan kesalahan orang semestinya dapat dilakukan secara konsekuen. Setidaknya, dengan mengingat kesalahan orang pada kita, kita menjadi lebih mawas diri. Pun saya tidak mengatakan bahwa logika lebih utama atau lebih baik daripada emosi. Logika dan emosi merupakan bagian integral dalam diri manusia yang seyogyanya dapat digunakan secara imbang sehingga manusia dapat benar-benar menggunakan kompetensi dirinya secara optimal. Lalu, mengapa laki-laki cenderung didominasi logika dan perempuan cenderung didominasi emosi? Kita tidak akan pernah menemukan jawabannya. Ini merupakan misteri yang tak akan tergali layaknya samudera yang tak akan pernah kita ketahui secara pasti ada apa saja di dalamnya.

31 Juli 2009

Perlukah Etika dalam Facebook?

Facebook memang sudah benar-benar “helps you connect and share with the people in your life”. Tagline-nya yang terkenal itu sudah saya rasakan keampuhannya. Saya bisa bertemu lagi dengan teman-teman lama yang saya pikir tidak mungkin saya temukan lagi keberadaannya. Facebook juga membuat saya tetap in touch dengan mereka. Sungguh saya sangat berterima kasih pada Facebook.

Namun kesenangan saya dalam Facebooking pernah (dan mungkin masih) membuat saya lupa diri. Tepatnya, saya tidak mampu membaca situasi dan menempatkan diri, atau kalau orang Jawa bilang; ora empan papan. Seringkali, dengan begitu enaknya, saya menulis di wall teman-teman saya tanpa memperhatikan siapa dan apa mereka saat ini. Misalnya, saya pernah menulis sesuatu di wall kawan saya—saat ini ia menjadi seorang “frater” (calon Imam Gereja Katolik a.k.a pastor)—tentang kekonyolannya di masa lalu ataupun saat ini. Tentu hal ini saya lakukan dalam konteks bercanda tanpa bermaksud untuk merendahkan kompetensinya. Kedekatan saya dengan kawan saya tersebut membuat saya dengan mudah melakukan hal itu. Namun, tanpa saya sadari sebelumnya, tulisan saya di wall-nya tersebut tentu juga dibaca oleh teman-temannya yang tak melulu adalah orang-orang dalam komunitas kami. Di dalam daftar temannya, tentu ada orang-orang yang punya pandangan yang berbeda dari saya tentang kawan saya tersebut, misalnya murid-muridnya atau para Pastor formatornya.

Mungkin saja kawan saya tidak keberatan dengan apa yang saya tulis di wall-nya karena dia tahu bahwa saya hanya bercanda. Atau, mungkin yang saya tulis justru semakin menambah wacana orang lain tentang kawan saya tersebut dan berharap orang tidak memandangnya sebagai sesuatu yang negatif. Well...itu memang pikiran positif, tetapi tidak semua orang berpikir seperti apa yang saya pikirkan.

Kasus lain, ada teman saya yang men-tag foto teman saya yang lain. Sebut saja si A men-tag si B dalam suatu foto. Foto tersebut memang konyol dan dalam kadar tertentu bisa disebut memalukan. Ternyata si B tidak menyukai apa yang telah dilakukan A. Mungkin B merasa bahwa foto-foto tersebut tidak layak dipublikasikan apalagi men-tag dirinya dalam foto-foto tersebut. Di luar dugaan saya, si B kemudian menghapus A dari daftar temannya. Itu pun saya ketahui setelah A bercerita pada saya.

Kasus saya dan kasus teman saya si A dan si B mungkin hanya sedikit kasus yang terjadi di dalam Facebook, mungkin juga pernah Anda alami. Tanpa kita sadari, kita sering membuat orang lain tidak nyaman dengan apa yang telah kita lakukan dalam Facebooking. Saya sendiri mengakui hal itu dan memohon maaf bila saya telah dengan tidak etis membuat teman-teman saya tidak nyaman. “Empan papan” atau “tahu tempat” adalah sikap yang menurut saya perlu diterapkan. Seperti layaknya pergaulan nyata, ada etika yang harus kita jaga.

05 Juni 2009

Benarkah Kau Mencintaiku Apa Adanya?

Ada yang pernah liat iklan TV Pond’s Age Miracle yang versi dance? Apa yang muncul di benak Anda? Biasa saja? Atau ada sesuatu yang lain? Saya sendiri merasa ada sesuatu yang lain. Saya tersentuh dengan iklan tersebut. Begini ceritanya....
Alkisah, ada sepasang suami istri yang hendak merayakan hari Valentine dengan menghadiri acara yang bertajuk Valentine’s Dance. Sang suami adalah seorang pria yang tidak bisa berdansa sejak muda. Dia tidak pernah belajar dansa dan tidak pernah bersedia untuk diajak dansa oleh istrinya sejak mereka masih remaja (mungkin waktu mereka masih pacaran), bahkan sang suami masih menolak ajakan dansa sang istri pada pesta pernikahan mereka. Sang istri akhirnya memahami dan menerima sifat dan sikap sang suami tentang masalah dansa tersebut. Nah...pada saat Valentine’s Dance tersebut, sang istri terkejut karena sang suami tiba2 mengajaknya untuk berdansa. Tentu saja sang istri merasa bahagia bukan main. Ternyata, sang suami mulai belajar dansa tanpa sepengetahuan sang istri untuk memberi kejutan nantinya. Dalam iklan tersebut, Pond’s Age Miracle dihadirkan sebagai faktor utama pembawa perubahan sikap sang suami dengan cara ‘menyulap’ wajah sang istri menjadi tampak lebih muda dan segar.
Bukan Pond’s Age Miracle yang akan saya bahas, melainkan dinamika hubungan suami istri tersebut. Saya tersentuh dengan perjalanan sifat dan sikap pasangan tersebut. Jika dicermati lebih mendalam, kita pasti menemukan gejolak perasaan yang terjadi di keduanya. Sang istri tentu saja mengalami kekecewaan terhadap sang suami berkaitan dengan kapabilitas dan kemauannya tentang dansa, betapapun kecilnya perasaan itu. Sang suami, mungkin menganggap masalah dansa adalah permasalahan remeh-temeh yang gak terlalu penting. Dia mungkin lebih memprioritaskan bagaimana membangun hubungan dengan sang istri dalam konteks yang lebih besar dan general, misalnya fokus dalam membangun finansial keluarga. Tapi yang terjadi di antara keduanya sungguh patut dikagumi. Sang istri dalam iklan tersebut sama sekali tidak ditampilkan mengalami kekecewaan yang berarti. Dia justru tampak selalu tenang dan bahagia. Saya mencoba mendalami perasaan sang istri lebih mendalam. Kekecewaan pasti ada di benak sang istri. Namun dia menyikapinya dengan menerima pribadi sang suami yang demikian namun tetap berharap dengan optimis bahwa sang suami akan berubah menjadi pribadi yang dia inginkan. Sang istri nampak tidak pernah complain terhadap sang suami. Di pihak sang suami, dia menyadari bahwa sang istri memiliki harapan pada dirinya tentang permasalahan “kecil” tersebut. Maka, dia mulai berlatih dansa di luar pengetahuan sang istri dan memberikan kejutan pada sang istri pada acara Valentine’s Dance, a romantic one.
Dinamika perasaan yang terjadi dalam hubungan mereka sangatlah mengagumkan. Sifat dan sikap mereka yang dinamis juga merupakan sesuatu yang sangat bagus untuk dijadikan contoh. Sang istri tidak kaku dalam memandang sang suami, sedangkan sang suami juga sangat sadar akan ‘kekurangan’nya. Bagi saya, ini benar2 implementasi dari pertanyaan “Benarkah Kau Mencintaiku Apa Adanya?“ yang sesungguhnya.

23 Mei 2009

Angels & Demons


Liburan saya ke Salatiga mengantarkan saya jalan-jalan bersama anggota keluarga ke Jogja dulu. Di kota inilah, saya menyaksikan film Angels & Demons, sebuah film fun action yang telah lama saya tunggu setelah membaca novelnya. Bagi yang sudah pernah “menyaksikan” versi novelnya, film ini pasti terasa jauh dari sempurna. Tentu hal ini juga dialami oleh semua film yang diangkat dari novel.
Jika boleh disebut sebagai sekuel film The Da Vinci Code, Angels & Demons terasa sangat aman dilihat dari sisi kontroversi yang melekat pada film sebelumnya. Tiga tahun lalu, melalui petualangan Robert Langdon (pakar simbologi dan teori konspirasi dari Harvard University), novel dan film The Da Vinci Code telah mengundang reaksi kaum Kristen di hampir seluruh dunia karena menampilkan teori konspiratif tentang pernikahan Jesus dan Mary Magdalene yang menghasilkan keturunan. Lebih dari itu, The Da Vinci Code telah merusak bangunan kubah dogma teologis tentang Kristianitas yang dijaga oleh Vatikan selama hampir 20 abad. Vatikan dengan sendirinya ditampilkan sebagai tokoh antagonis yang dikalahkan di akhir cerita.
Jika Anda mengharapkan kehadiran kontroversi dalam The Da Vinci Code muncul dalam Angels & Demons, Anda pasti kecewa. Masih menampilkan petualangan Robert Langdon, Angels & Demons hanya menceritakan suatu kisah pembunuhan di Vatikan dan hubungannya dengan suatu organisasi rahasia, Illuminati. Secara umum, film ini saya kategorikan dalam fun action. Satu-satunya hal yang menurut saya kontroversial hanyalah keberadaan Illuminati tersebut. Saya tidak menampik bahwa Illuminati memang ada. Hanya saja, sepanjang saya mempelajari Sejarah Gereja, saya tidak pernah menemukan keberadaan Illuminati sebelum tahun 1776. Eksistensi Illuminati ditarik hingga tahun 1600-an agar match dengan tokoh Galileo. Wajar hal ini dilakukan Dan Brown untuk membuat ceritannya semakin menarik, sama seperti yang telah ia lakukan dalam cerita The Da Vinci Code.
Angels & Demons dan juga The Da Vinci Code merupakan kisah perpaduan antar fiksi dan fakta. Formula perpaduan ini dikreasikan Dan Brown dengan sangat apik sehingga orang awam tidak tahu mana yang fiktif dan mana yang fakta, bahkan cenderung akan berpikir bahwa semua yang ditampilkan adalah fakta.
Sebagai penyuka teori konspirasi, saya sangat menikmati dan mengagumi karya-karya Dan Brown ini. Saya seperti mencapai “puncak” ketika otak saya mencari-cari celah misteri suatu teori dan menemukan argumen-argumen yang memperkuatnya, terlebih jika teori tersebut melawan mainstream dan mampu menciptakan suatu kontroversi yang “menggoyang” suatu formasi yang mapan. Karya Dan Brown dengan segala kontroversinya, bagi saya tetaplah bertahan sebagai sebuah karya seni yang cukup untuk dinikmati saja. Meski saya seorang Kristiani, saya tidak pernah merasa terganggu dengan kontroversi yang dibawa Brown.
Iman sekecil biji sesawi saja mampu memindahkan gunung, bagaimana jika iman itu sebesar biji duren? Orang-orang Kristiani yang merasa tergoyahkan imannya hanya karena karya-karya Brown ini, pastilan imannya jauh lebih kecil dari biji sesawi.

03 Februari 2009

Ada Apa dengan Cinta?

“Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali berjumpa denganmu”. Pernahkah Anda mengungkapkan kalimat tersebut pada (calon) pasangan Anda? Atau pernahkah (calon) pasangan Anda mengungkapkan kalimat tersebut pada Anda? Banyak orang merasa berbunga-bunga hatinya ketika orang lain mengungkapkan hal tersebut padanya. Banyak pula yang merasa risih mendengarnya. Dan saya, adalah satu dari banyak orang yang risih mendengarnya. Well, bagi saya, kalimat tersebut tak lebih dari sekedar telek bantheng (bullshit) alias omong kosong. Mengapa? Bagi saya, perasaan cinta tak mungkin muncul begitu saja ketika kita pertama kali berjumpa dengan (calon) pasangan kita.

Cinta memiliki pemahaman yang sangat luas. Dalam hal ini, cinta yang saya maksud adalah cinta yang merupakan bagian dari beberapa level perasaan afektif terhadap pasangan. Afeksi seseorang pada pasangannya terdiri dari beberapa level yang step by step akan dilalui. Tahapaan perasaan pertama adalah simpati dan atau empati. Kedua hal ini berbeda. Simpati adalah suatu perasaan ketertarikan pada seseorang yang muncul dari dalam diri kita karena faktor ekternal kita. Faktor eksternal tersebut adalah segala hal yang berhubungan dengan objek simpati kita. Misalnya, kita tertarik dengan seseorang karena orang tersebut berpenampilan menarik dan supel dalam bergaul. Sedangkan empati adalah suatu perasaan ketertarikan pada seseorang yang muncul dengan sendirinya dari dalam diri kita tanpa adanya pengaruh faktor eksternal. Jadi, empati merupakan bagian dari moralitas pribadi yang membangun integritas diri. Misal, jika sejak kecil kita dibiasakan untuk menghargai orang tua, dengan sendirinya kita akan memberikan tempat duduk kita dalam bus kepada seseorang nenek meskipun nenek tersebut terlihat masih bugar dan sama sekali tidak keberatan untuk berdiri.

Tahapan ke dua adalah jatuh hati. Perasaan ini hampir serupa dengan tahapan simpati/empati. Yang membedakannya, jatuh hati ditandai dengan adanya momentum perasaan di mana kita mulai pertama kali merasakan ketertarikan dengan (calon) pasangan kita dan secara sadar memberikan perhatian lebih dan spesifik padanya. Bahasa gaulnya; naksir. (alah...kaya gini kok bahasa gaul).

Tahapan perasaan ke tiga adalah caring yang diwujudkan dalam sikap kesedian untuk mau mengenal (calon) pasangan. Dalam tahap ini, kita bersedia untuk lebih mengenal, mengetahui segala kelebihan dan kelemahannya. Fokus dalam tahapan ini adalah adanya sikap ‘bersedia’ untuk mengenal. Konsekuensi dari sikap ini, kita menjadi tahu kebaikan dan keburukan (calon) pasangan kita.

Tahapan perasaaan ke empat dan terakhir adalah cinta. Ini adalah perasaan unik manusia yang sangat sulit untuk didefinisikan artinya. Namun di sini saya akan mencobanya. Cinta dalam afeksi antar pasangan, merupakan perasaan yang bersifat kondisional. Dia bisa muncul jika ada kondisi tertentu yang mendahuluinya. Dalam konteks tahapan perasaan ini, cinta muncul sebagai konsekuensi dari kesediaan kita untuk mau mengenal (calon) pasangan kita. Tentu saja tahapan ini tidak selalu ada karena sekali lagi, cinta merupakan sebuah perasaan hasil dari konsekuensi kita untuk bersedia mengenal (calon) pasangan kita. Jika ternyata kita melihat lebih banyak keburukan dari (calon) pasangan kita, secara sadar ataupun tidak, bisa jadi perasaan yang sudah terbangun akan runtuh. Lalu, apa yang menandai bahwa kita sudah memiliki perasaan cinta pada (calon) pasangan kita? Well, saya mengidentifikasinya dengan melihat adanya beberapa hal berikut:

  • Memahami dan menerima

Segala hal yang dimiliki oleh (calon) pasangan kita dapat kita pahami dan tentu saja dengan perasaan legawa dapat kita terima sebagai bagian integral dari diri (calon) pasangan kita. Hati-hati dengan perasaan ini! Jangan sampai kita terjebak dalam penerimaan secara buta! Perasaan ini sering kali beradu dengan nilai-nilai diri yang sudah kita miliki. Misalnya, (calon) pasangan kita punya sifat buruk menjelek-jelekan orang lain dan kita sama sekali tidak suka dengan hal itu. Pemahaman dan penerimaan harus bersifat konstruktif dan dalam hal ini kita harus dapat mengubah sifat buruk (calon) pasangan kita dengan cara yang baik, penuh penghormatan tanpa harus membuatnya sakit hati.

  • Memiliki

Kita mempunyai perasaan bahwa (calon) pasangan kita adalah milik kita. Namun, bukan sebagai properti atau kepunyaan, melainkan sebagai bagian diri kita yang lain (alter ego). Jadi, rasa memiliki ini diikuti dengan rasa penghormatan yang besar terhadap (calon) pasangan kita—termasuk wilayah privatnya—sama seperti kita menghormati diri kita.

  • Memberi

Ketika kita memiliki rasa cinta, kita akan selalu siap untuk memberi. Perasaan cinta yang sesungguhnya adalah kesediaan untuk memberi tanpa pamrih. Apakah idealisme ini terlalu berlebihan? Sebenarnya tidak. Hanya saja, tidak ada satu pun manusia yang mampu mencintai (calon) pasangannya dengan cara seperti ini. Keterbatasan ini seringkali membuat kita terjebak dalam kondisi ilusi cinta. Ketika orang—yang merasa bahwa ia mencintai (calon) pasangannya—merasa bahwa ia tidak mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan dengan mengatakan; “Aku selalu berkorban untukmu, selalu memberikan apa yang kamu minta. Bahkan, aku bersedia untuk mengubah sifat-sifat burukku hanya untukmu. Tapi apa yang telah kamu berikan untukku?”. Orang yang benar-benar mencintai tidak mungkin bersikap demikian. Orang ini mengalami ilusi cinta, dia sebenarnya mencintai dirinya sendiri yang merasa sedang mencintai pasangannya.

  • Komitmen diri

Komitmen merupakan sesuatu yang secara sadar ataupun tidak, muncul sebagai frame atas sifat dan sikap kita terhadap hubungan yang akan atau telah kita bangun. Komitmen ini berupa kerangka tegas terhadap diri yang menjadi batasan dalam hubungan kita dan dapat berbagai macam bentuknya, tergantung tujuan kita dalam membangun hubungan.


Simpati/empati, jatuh hati, caring, dan cinta merupakan tahapan perasaan yang dialami kebanyakan orang. Keempatnya membentuk suatu pola siklus tak terputus yang dapat digambarkan seperti di bawah ini.

Ketika kita sudah mencapai tahapan cinta, bukan berarti proses kita ikut berakhir. Perasaan cinta kita akan semakin menumbuhkan simpati/empati pada (calon) pasangan kita. Dan kita akan kembali jatuh hati, bersedia mengenal kembali, dan perasaan cinta pun makin besar, demikian seterusnya. Kalau pola seperti ini dapat kita jaga, hubungan yang indah dan langgeng pun bukan inpian semata.

Well...saya sepertinya sudah cukup banyak bicara tentang tahapan perasaan afektif terhadap (calon) pasangan kita. Rasanya capek juga...tapi ada sedikit yang belum sempat saya tambahkan di sini, yaitu bilamana pola tersebut diterapkan. Kalau saya perhatikan, kebanyakan orang meminta calon pasangannya untuk menjadi kekasih hatinya ketika dia sedang dalam tahap perasaan jatuh hati. Sepertinya ini yang umum terjadi. Tapi saya juga menemukan beberapa orang yang hanya akan meminta calon pasangannya untuk menjadi kekasihnya kalau dia benar-benar sudah mengalami tahapan perasaan cinta. Saya pikir semuanya sah-sah saja karena ini tergantung dengan konsep dan nilai yang dipegang masing-masing orang. Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahannya.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk menambah wacana percintaan Anda. Selamat bercinta.....!

02 Februari 2009

Pasta Gigi yang Alami tapi Tidak Ilmiah?

Di televisi, ada iklan yang menarik perhatian saya. Iklan tersebut adalah sebuah iklan pasta gigi. Di dalam iklan itu, ada dua anak kecil, cowok dan cewek kakak beradik yang saling memperdebatkan antara mana yang lebih hebat antara kekuatan ilmiah dan kekuatan alami. Mereka saling mempertahankan pendiriannya hingga bertarung layaknya Neo dan Agent Smith dalam film Matrix. Tiba-tiba pertarungan tersebut berakhir dengan kedatangan ibu mereka yang mengajak untuk menyikat gigi. Kemudian, setelah selesai menyikat gigi, mereka mengamini satu hal bahwa kekuatan hebat yang ilmiah dan alami ada dalam pasta gigi tersebut.

Secara visual, iklan tersebut saya pikir cukup bagus. Namun, saya tidak sreg dengan pertentangan yang ditampilkan; pertentangan antara kekuatan ilmiah dan kekuatan alami. Ditinjau dari makna katanya, ‘ilmiah’ berarti segala hal yang bersifat atau berhubungan dengan ilmu pengetahuan (science) atau pengetahuan (knowledge). Sedangkan ‘alami’ berarti segala hal yang bersifat atau berhubungan dengan alam (nature). ‘Ilmu pengetahuan’ dan ‘alam’ jelas merupakan dua hal yang berbeda secara substantif dan keduanya sama sekali tidak memiliki relasi oposisional. Kata ‘panjang’ dan ‘pendek’ memiliki relasi oposisional, sama seperti ‘besar’ dan ‘kecil’. Sedangkan ‘ilmiah’ dan ‘alami’ sama sekali tak dapat dipertentangkan. Kalau ingin menunjukkan pertentangan, seharusnya ‘ilmiah’ dipertentangkan dengan ‘non ilmiah’ dan ‘alami’ dengan ‘buatan’. Kedua kata tersebut lebih memiliki relasi komplementer daripada oposisional.

Iklan tadi sebenarnya ingin menunjukkan bahwa pasta gigi yang dimaksud mengandung suatu zat alami yang diolah secara ilmiah dan menolak bahwa segala hal yang bersifat ilmiah selalu bersifat arfisial atau buatan. Tim kreatif iklan tersebut layak dipuji karena ingin membuka kesempitan berpikir kebanyakan orang. Sama seperti menolak pandangan sempit bahwa produk makanan yang mengandung zat kimia adalah selalu berbahaya. Padahal semua elemen penyusun produk makanan adalah bahan kimia yang bisa bersumber dari alam ataupun buatan. Kembali ke hal semula, mereka seharusnya tidak mempertentangkan antara ‘ilmiah’ dan ‘alami’.

30 Januari 2009

Salah Kaprah Penulisan Kata-kata Bahasa Jawa dalam Huruf Latin

Saat menerima pesan pendek (SMS) dalam HP saya, seringkali saya jumpai beberapa teman saya yang orang Jawa menuliskan pesannya dalam bahasa Jawa. Saya tentu paham maksud dari apa yang ditulis dalam pesan tersebut karena secara genealogis, saya orang Jawa tulen yang lahir dan besar di Bumi Mataram. Saya sama sekali tidak punya masalah dalam mengartikan bahasa Jawa, meskipun terkadang agak kesulitan juga dalam level Krama Inggil dan Jawa Kuno. Namun saya seringkali merasa janggal dan tidak nyaman dengan pemilihan huruf dalam kata-kata yang tertulis. Misalnya, Lebaran tahun lalu, saya mendapat pesan “Podo2 dhingapuro yo!” (mohon saling dimaafkan, ya!).

Penulisan tersebut salah dan yang benar seharusnya adalah “Padha2 dingapura ya!” dengan vokalisasi ‘a’ seperti ‘o’ dalam kata sombong. Mengapa demikian? Karena kata-kata dalam Bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Latin merupakan hasil dari alih-aksara Jawa ke aksara/huruf Latin. Sehingga penulisan dan pengucapannya harus mengikuti asalnya.

Mari kita pahami lebih lanjut. Misal, kata lara (sakit) dan loro (dua). Kata lara berasal dari aksara Jawa lr dan loro berasal dari [lo[ro dimana aksara ‘a’ dalam kata lara diucapkan seperti huruf ‘o’ dalam kata sombong. Sedangkan aksara ‘o’ dalam kata loro diucapkan seperti huruf ‘o’ dalam kata toko. Keduanya jelas memiliki penulisan dan pengucapan yang berbeda. Begitu pula dengan kalimat “Padha2 dingapura ya!”. Penulisan dalam aksara Jawanya adalah pd pd fizpur y. Dimana semua aksara ‘a’ dalam kalimat tadi diucapkan seperti aksara ‘o’ dalam kata sombong kecuali ‘a’ pada suku kata ‘nga. Dan penulisan dalan aksara Latinnya harus mengikuti penulisan dalam aksara Jawa.

Yang membuat saya tidak nyaman adalah karena kesalahan-kesalahan ini menjadi kaprah karena tetap sering digunakan. Kasus ini tidak hanya saya jumpai dalam penulisan SMS saja (yang masih bisa ditolerir) melainkan juga di berbagai tempat yang seharusnya tidak mentolerir kesalahan penulisan tersebut, seperti dalam teks karaoke lagu-lagu campur sari, siaran televisi lokal, bahkan beberapa koran dan majalah lokal. Saya bukan orang yang concern mempelajari budaya Jawa. Ini hanyalah sedikit ilmu yang masih tersimpan di ruang otak saya sejak SD. Semoga kesalahan ini tak lagi menjadi kaprah dan dapat segera diperbaiki.