“Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali berjumpa denganmu”. Pernahkah Anda mengungkapkan kalimat tersebut pada (calon) pasangan Anda? Atau pernahkah (calon) pasangan Anda mengungkapkan kalimat tersebut pada Anda? Banyak orang merasa berbunga-bunga hatinya ketika orang lain mengungkapkan hal tersebut padanya. Banyak pula yang merasa risih mendengarnya. Dan saya, adalah satu dari banyak orang yang risih mendengarnya. Well, bagi saya, kalimat tersebut tak lebih dari sekedar telek bantheng (bullshit) alias omong kosong. Mengapa? Bagi saya, perasaan cinta tak mungkin muncul begitu saja ketika kita pertama kali berjumpa dengan (calon) pasangan kita.
Cinta memiliki pemahaman yang sangat luas. Dalam hal ini, cinta yang saya maksud adalah cinta yang merupakan bagian dari beberapa level perasaan afektif terhadap pasangan. Afeksi seseorang pada pasangannya terdiri dari beberapa level yang step by step akan dilalui. Tahapaan perasaan pertama adalah simpati dan atau empati. Kedua hal ini berbeda. Simpati adalah suatu perasaan ketertarikan pada seseorang yang muncul dari dalam diri kita karena faktor ekternal kita. Faktor eksternal tersebut adalah segala hal yang berhubungan dengan objek simpati kita. Misalnya, kita tertarik dengan seseorang karena orang tersebut berpenampilan menarik dan supel dalam bergaul. Sedangkan empati adalah suatu perasaan ketertarikan pada seseorang yang muncul dengan sendirinya dari dalam diri kita tanpa adanya pengaruh faktor eksternal. Jadi, empati merupakan bagian dari moralitas pribadi yang membangun integritas diri. Misal, jika sejak kecil kita dibiasakan untuk menghargai orang tua, dengan sendirinya kita akan memberikan tempat duduk kita dalam bus kepada seseorang nenek meskipun nenek tersebut terlihat masih bugar dan sama sekali tidak keberatan untuk berdiri.
Tahapan ke dua adalah jatuh hati. Perasaan ini hampir serupa dengan tahapan simpati/empati. Yang membedakannya, jatuh hati ditandai dengan adanya momentum perasaan di mana kita mulai pertama kali merasakan ketertarikan dengan (calon) pasangan kita dan secara sadar memberikan perhatian lebih dan spesifik padanya. Bahasa gaulnya; naksir. (alah...kaya gini kok bahasa gaul).
Tahapan perasaan ke tiga adalah caring yang diwujudkan dalam sikap kesedian untuk mau mengenal (calon) pasangan. Dalam tahap ini, kita bersedia untuk lebih mengenal, mengetahui segala kelebihan dan kelemahannya. Fokus dalam tahapan ini adalah adanya sikap ‘bersedia’ untuk mengenal. Konsekuensi dari sikap ini, kita menjadi tahu kebaikan dan keburukan (calon) pasangan kita.
Tahapan perasaaan ke empat dan terakhir adalah cinta. Ini adalah perasaan unik manusia yang sangat sulit untuk didefinisikan artinya. Namun di sini saya akan mencobanya. Cinta dalam afeksi antar pasangan, merupakan perasaan yang bersifat kondisional. Dia bisa muncul jika ada kondisi tertentu yang mendahuluinya. Dalam konteks tahapan perasaan ini, cinta muncul sebagai konsekuensi dari kesediaan kita untuk mau mengenal (calon) pasangan kita. Tentu saja tahapan ini tidak selalu ada karena sekali lagi, cinta merupakan sebuah perasaan hasil dari konsekuensi kita untuk bersedia mengenal (calon) pasangan kita. Jika ternyata kita melihat lebih banyak keburukan dari (calon) pasangan kita, secara sadar ataupun tidak, bisa jadi perasaan yang sudah terbangun akan runtuh. Lalu, apa yang menandai bahwa kita sudah memiliki perasaan cinta pada (calon) pasangan kita? Well, saya mengidentifikasinya dengan melihat adanya beberapa hal berikut:
- Memahami dan menerima
Segala hal yang dimiliki oleh (calon) pasangan kita dapat kita pahami dan tentu saja dengan perasaan legawa dapat kita terima sebagai bagian integral dari diri (calon) pasangan kita. Hati-hati dengan perasaan ini! Jangan sampai kita terjebak dalam penerimaan secara buta! Perasaan ini sering kali beradu dengan nilai-nilai diri yang sudah kita miliki. Misalnya, (calon) pasangan kita punya sifat buruk menjelek-jelekan orang lain dan kita sama sekali tidak suka dengan hal itu. Pemahaman dan penerimaan harus bersifat konstruktif dan dalam hal ini kita harus dapat mengubah sifat buruk (calon) pasangan kita dengan cara yang baik, penuh penghormatan tanpa harus membuatnya sakit hati.
- Memiliki
Kita mempunyai perasaan bahwa (calon) pasangan kita adalah milik kita. Namun, bukan sebagai properti atau kepunyaan, melainkan sebagai bagian diri kita yang lain (alter ego). Jadi, rasa memiliki ini diikuti dengan rasa penghormatan yang besar terhadap (calon) pasangan kita—termasuk wilayah privatnya—sama seperti kita menghormati diri kita.
- Memberi
Ketika kita memiliki rasa cinta, kita akan selalu siap untuk memberi. Perasaan cinta yang sesungguhnya adalah kesediaan untuk memberi tanpa pamrih. Apakah idealisme ini terlalu berlebihan? Sebenarnya tidak. Hanya saja, tidak ada satu pun manusia yang mampu mencintai (calon) pasangannya dengan cara seperti ini. Keterbatasan ini seringkali membuat kita terjebak dalam kondisi ilusi cinta. Ketika orang—yang merasa bahwa ia mencintai (calon) pasangannya—merasa bahwa ia tidak mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan dengan mengatakan; “Aku selalu berkorban untukmu, selalu memberikan apa yang kamu minta. Bahkan, aku bersedia untuk mengubah sifat-sifat burukku hanya untukmu. Tapi apa yang telah kamu berikan untukku?”. Orang yang benar-benar mencintai tidak mungkin bersikap demikian. Orang ini mengalami ilusi cinta, dia sebenarnya mencintai dirinya sendiri yang merasa sedang mencintai pasangannya.
- Komitmen diri
Komitmen merupakan sesuatu yang secara sadar ataupun tidak, muncul sebagai frame atas sifat dan sikap kita terhadap hubungan yang akan atau telah kita bangun. Komitmen ini berupa kerangka tegas terhadap diri yang menjadi batasan dalam hubungan kita dan dapat berbagai macam bentuknya, tergantung tujuan kita dalam membangun hubungan.
Simpati/empati, jatuh hati, caring, dan cinta merupakan tahapan perasaan yang dialami kebanyakan orang. Keempatnya membentuk suatu pola siklus tak terputus yang dapat digambarkan seperti di bawah ini.
Ketika kita sudah mencapai tahapan cinta, bukan berarti proses kita ikut berakhir. Perasaan cinta kita akan semakin menumbuhkan simpati/empati pada (calon) pasangan kita. Dan kita akan kembali jatuh hati, bersedia mengenal kembali, dan perasaan cinta pun makin besar, demikian seterusnya. Kalau pola seperti ini dapat kita jaga, hubungan yang indah dan langgeng pun bukan inpian semata.
Well...saya sepertinya sudah cukup banyak bicara tentang tahapan perasaan afektif terhadap (calon) pasangan kita. Rasanya capek juga...tapi ada sedikit yang belum sempat saya tambahkan di sini, yaitu bilamana pola tersebut diterapkan. Kalau saya perhatikan, kebanyakan orang meminta calon pasangannya untuk menjadi kekasih hatinya ketika dia sedang dalam tahap perasaan jatuh hati. Sepertinya ini yang umum terjadi. Tapi saya juga menemukan beberapa orang yang hanya akan meminta calon pasangannya untuk menjadi kekasihnya kalau dia benar-benar sudah mengalami tahapan perasaan cinta. Saya pikir semuanya sah-sah saja karena ini tergantung dengan konsep dan nilai yang dipegang masing-masing orang. Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahannya.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk menambah wacana percintaan Anda. Selamat bercinta.....!
