31 Juli 2009

Perlukah Etika dalam Facebook?

Facebook memang sudah benar-benar “helps you connect and share with the people in your life”. Tagline-nya yang terkenal itu sudah saya rasakan keampuhannya. Saya bisa bertemu lagi dengan teman-teman lama yang saya pikir tidak mungkin saya temukan lagi keberadaannya. Facebook juga membuat saya tetap in touch dengan mereka. Sungguh saya sangat berterima kasih pada Facebook.

Namun kesenangan saya dalam Facebooking pernah (dan mungkin masih) membuat saya lupa diri. Tepatnya, saya tidak mampu membaca situasi dan menempatkan diri, atau kalau orang Jawa bilang; ora empan papan. Seringkali, dengan begitu enaknya, saya menulis di wall teman-teman saya tanpa memperhatikan siapa dan apa mereka saat ini. Misalnya, saya pernah menulis sesuatu di wall kawan saya—saat ini ia menjadi seorang “frater” (calon Imam Gereja Katolik a.k.a pastor)—tentang kekonyolannya di masa lalu ataupun saat ini. Tentu hal ini saya lakukan dalam konteks bercanda tanpa bermaksud untuk merendahkan kompetensinya. Kedekatan saya dengan kawan saya tersebut membuat saya dengan mudah melakukan hal itu. Namun, tanpa saya sadari sebelumnya, tulisan saya di wall-nya tersebut tentu juga dibaca oleh teman-temannya yang tak melulu adalah orang-orang dalam komunitas kami. Di dalam daftar temannya, tentu ada orang-orang yang punya pandangan yang berbeda dari saya tentang kawan saya tersebut, misalnya murid-muridnya atau para Pastor formatornya.

Mungkin saja kawan saya tidak keberatan dengan apa yang saya tulis di wall-nya karena dia tahu bahwa saya hanya bercanda. Atau, mungkin yang saya tulis justru semakin menambah wacana orang lain tentang kawan saya tersebut dan berharap orang tidak memandangnya sebagai sesuatu yang negatif. Well...itu memang pikiran positif, tetapi tidak semua orang berpikir seperti apa yang saya pikirkan.

Kasus lain, ada teman saya yang men-tag foto teman saya yang lain. Sebut saja si A men-tag si B dalam suatu foto. Foto tersebut memang konyol dan dalam kadar tertentu bisa disebut memalukan. Ternyata si B tidak menyukai apa yang telah dilakukan A. Mungkin B merasa bahwa foto-foto tersebut tidak layak dipublikasikan apalagi men-tag dirinya dalam foto-foto tersebut. Di luar dugaan saya, si B kemudian menghapus A dari daftar temannya. Itu pun saya ketahui setelah A bercerita pada saya.

Kasus saya dan kasus teman saya si A dan si B mungkin hanya sedikit kasus yang terjadi di dalam Facebook, mungkin juga pernah Anda alami. Tanpa kita sadari, kita sering membuat orang lain tidak nyaman dengan apa yang telah kita lakukan dalam Facebooking. Saya sendiri mengakui hal itu dan memohon maaf bila saya telah dengan tidak etis membuat teman-teman saya tidak nyaman. “Empan papan” atau “tahu tempat” adalah sikap yang menurut saya perlu diterapkan. Seperti layaknya pergaulan nyata, ada etika yang harus kita jaga.