23 Mei 2009

Angels & Demons


Liburan saya ke Salatiga mengantarkan saya jalan-jalan bersama anggota keluarga ke Jogja dulu. Di kota inilah, saya menyaksikan film Angels & Demons, sebuah film fun action yang telah lama saya tunggu setelah membaca novelnya. Bagi yang sudah pernah “menyaksikan” versi novelnya, film ini pasti terasa jauh dari sempurna. Tentu hal ini juga dialami oleh semua film yang diangkat dari novel.
Jika boleh disebut sebagai sekuel film The Da Vinci Code, Angels & Demons terasa sangat aman dilihat dari sisi kontroversi yang melekat pada film sebelumnya. Tiga tahun lalu, melalui petualangan Robert Langdon (pakar simbologi dan teori konspirasi dari Harvard University), novel dan film The Da Vinci Code telah mengundang reaksi kaum Kristen di hampir seluruh dunia karena menampilkan teori konspiratif tentang pernikahan Jesus dan Mary Magdalene yang menghasilkan keturunan. Lebih dari itu, The Da Vinci Code telah merusak bangunan kubah dogma teologis tentang Kristianitas yang dijaga oleh Vatikan selama hampir 20 abad. Vatikan dengan sendirinya ditampilkan sebagai tokoh antagonis yang dikalahkan di akhir cerita.
Jika Anda mengharapkan kehadiran kontroversi dalam The Da Vinci Code muncul dalam Angels & Demons, Anda pasti kecewa. Masih menampilkan petualangan Robert Langdon, Angels & Demons hanya menceritakan suatu kisah pembunuhan di Vatikan dan hubungannya dengan suatu organisasi rahasia, Illuminati. Secara umum, film ini saya kategorikan dalam fun action. Satu-satunya hal yang menurut saya kontroversial hanyalah keberadaan Illuminati tersebut. Saya tidak menampik bahwa Illuminati memang ada. Hanya saja, sepanjang saya mempelajari Sejarah Gereja, saya tidak pernah menemukan keberadaan Illuminati sebelum tahun 1776. Eksistensi Illuminati ditarik hingga tahun 1600-an agar match dengan tokoh Galileo. Wajar hal ini dilakukan Dan Brown untuk membuat ceritannya semakin menarik, sama seperti yang telah ia lakukan dalam cerita The Da Vinci Code.
Angels & Demons dan juga The Da Vinci Code merupakan kisah perpaduan antar fiksi dan fakta. Formula perpaduan ini dikreasikan Dan Brown dengan sangat apik sehingga orang awam tidak tahu mana yang fiktif dan mana yang fakta, bahkan cenderung akan berpikir bahwa semua yang ditampilkan adalah fakta.
Sebagai penyuka teori konspirasi, saya sangat menikmati dan mengagumi karya-karya Dan Brown ini. Saya seperti mencapai “puncak” ketika otak saya mencari-cari celah misteri suatu teori dan menemukan argumen-argumen yang memperkuatnya, terlebih jika teori tersebut melawan mainstream dan mampu menciptakan suatu kontroversi yang “menggoyang” suatu formasi yang mapan. Karya Dan Brown dengan segala kontroversinya, bagi saya tetaplah bertahan sebagai sebuah karya seni yang cukup untuk dinikmati saja. Meski saya seorang Kristiani, saya tidak pernah merasa terganggu dengan kontroversi yang dibawa Brown.
Iman sekecil biji sesawi saja mampu memindahkan gunung, bagaimana jika iman itu sebesar biji duren? Orang-orang Kristiani yang merasa tergoyahkan imannya hanya karena karya-karya Brown ini, pastilan imannya jauh lebih kecil dari biji sesawi.